heisei3nen (heisei3nen) wrote,
heisei3nen
heisei3nen

  • Location:
  • Mood:
  • Music:

Have been trying to write a story

Okay, actually I have been writing a story, fiction story with my language. I think I want to try to posting it here, now. So, here the first chapter.
I still don't get the right title for this story. So for now, I will call it "untitled story".

Chapter 1

Suatu pagi aku terbangun, aku perhatikan sekelilingku, semuanya serba putih. "Tempat apa ini?" tanyaku dalam benakku. Tidak ada siapapun di ruangan ini selain aku. Aku perhatikan kembali sekelilingku dan kutemukan berbagai macam alat terpasang di sekitarku. Aku tarik napas dalam-dalam, lalu kuhirup udara sekitarku. "Aroma ini tak asing untukku, apakah ini obat?" tanyaku kembali dalam hati. Kuhirup kembali ruangan di sekelilingku untuk meyakinkan pemikiranku. "Ah iya benar ini aroma obat, sepertinya aku sedang di rumah sakit," kataku dengan yakin kepada diriku sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, namun setidaknya aku menjadi lebih tenang setelah memastikan sendiri dimana aku berada. "Ah, lemas sekali rasanya tubuh ini," kataku sambil tetap berbaring.

"Klik!" terdengar suara pintu terbuka. Aku menegok ke arah pintu putih di sebelah kiriku. Ada sesosok wanita berpakaian rapi dan mengenakan jas putih, masuk ke ruangan ini. Aku berusaha memerhatikan sosok itu dengan seksama. Terlihat olehku sosok wanita tersebut cantik, kulitnya putih, dan tinggi. Wanita tersebut berjalan menghampiriku. Dia berdiri di samping ranjang tempatku berbaring sambil memerhatikanku dengan lembut. "Kamu tersadar akhirnya, penantian yang cukup panjang untuk dapat melihatmu kembali, tentu saja terutama bagi wanita itu," katanya sambil tersenyum. "Bagaimana rasanya mengalami tidur yang cukup panjang? Nyenyak?" tanyanya padaku dengan ramah. Aku mengangguk dengan lemas saat menjawab pertanyaan wanita itu. "Nampaknya masih sulit bagimu untuk menggerakan tubuhmu itu. Ah itu hal yang wajar karena kamu terlalu lama berbaring di ranjang. Sepertinya tubuhmu sedikit lupa caranya untuk bergerak. Tak perlu khawatir, kamu cukup membiasakan diri bergerak dalam beberapa hari, maka kamu akan mendapatkan kembali seluruh kemampuanmu itu," Jelasnya dengan panjang lebar. Aku terlalu lemas untuk memberikan respon kepadanya. Kemudian wanita itu mengangkat suatu papan yang sudah terdapat kertas di atasnya dan mulai menulis sesuatu. Aku perhatikan dia mencatat cukup banyak hal yang ditunjukkan oleh berbagai alat di sekelilingku. "Ok, aku sudah mengambil semua datanya. Aku pergi dulu ya kawan. Selamat beristirahat kembali," katanya sambil tersenyum. Lalu wanita itu pergi keluar ruangan ini. "Kawan? ah... mungkin hanya dokter yang ramah," pikirku. Badanku masih terasa sangat lemah dan aku mulai kembali mengantuk. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tertidur kembali.

"Rion... Orion...," Samar-samar terdengar suara di telingaku. "Orion!" suara itu semakin terdengar jelas. Perlahan-lahan kucoba untuk membuka mata. Terlihat bayang-bayang seseorang yang berbicara padaku. Perlu beberapa waktu untuk benar-benar dapat melihat dengan jelas. "Orion, kamu sadar? Kamu sudah sadar!" Kali ini suara itu sudah terdengar sangat jelas. Suara itu berasal dari seorang wanita yang kini tengah duduk di samping ranjangku. Kini aku sudah dapat melihat dengan jelas. Seorang wanita berambut lurus dan panjang, serta berkulit putih tengah duduk di samping ranjangku. "Rion, oh Rioon akhirnya kamu tersadar, aku sudah lama sekali menunggumu agar bisa sadar seperti ini. Menyebalkan, kau tega sekali koma begitu lama dan meninggalkan aku sendirian seperti ini," Kata wanita itu setengah marah, setengah tersedu sambil memukul-mukul lengan kiriku. Aku menatapnya dengan heran. Aku tidak mengenalinya. "Siapa wanita ini?" pikirku dalam hati. "Hmm... Apakah namaku orion?" Aku membuka mulutku dan bertanya padanya dengan suara yang lirih. Wanita itu terlihat bingung. Wajahnya menampakkan ketidakpercayaan, seakan-akan aku ini sedang bercanda. Aku membalas tatapannya dengan wajah serius. "Eh? kamu sungguh ngga tahu bahwa namamu Orion?" Tanyanya untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bercanda. Aku membalasnya dengan mengangguk. "Oh tidak mungkin! Masa kamu kena amnesia?" Katanya kaget. Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. "Sebentar, biar kupanggilkan dokter," katanya padaku sambil terburu-buru keluar ruangan untuk memanggil dokter. Aku masih dalam kondisi berbaring. Rasanya, badan ini sudah tidak terlalu lemas. Kemudian, pintu kamar terbuka. Masuklah sesosok pria, tidak terlalu tua, namun kurang cocok untuk dikatakan muda. Dia berpakaian jas putih yang sama seperti Dokter wanita yang sebelumnya datang ke ruangan ini. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan cukup gemuk. Kemudian di belakangnya, masuk wanita yang tadi bicara padaku.

"Rupanya Anda sudah sadar Pak Orion," kata pria berpakaian putih itu. Aku menatapnya dengan wajah bertanya-tanya. "Oh ya sebelumnya, perkenalkan saya Bara, Dokter yang menangani Anda," kata pria itu, Dokter Bara. "Oh... halo Dok... ugh...," kataku berusaha bangkit untuk menyapa Dokter Bara, namun ternyata kepalaku masih terasa sangat sakit. "Anda berbaring saja, Pak," kata Dokter Bara sambil membantu membaringkan aku kembali. "Saya akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Setelah ini anda harus pergi ke ruang CT Scan untuk memeriksa seluruh bagian kepala Anda," jelas Dokter Bara. Kemudian dia mulai memeriksaku dan mengambil seluruh data yang ditampilkan oleh alat-alat yang ada di sekelilingku. "Beberapa waktu lalu, ada seorang Dokter wanita juga telah mengambil data seperti yang anda lakukan," kataku memberi tahu Dokter Bara tentang peristiwa yang kualami ketika sadar pertama kali. "Hmm... Dokter wanita? setahu saya di sini tidak ada Dokter ahli syaraf wanita. Ah mungkin itu halusinasi Anda," kata Dokter Bara dengan tenang. "Halusinasi? Rasanya tidak mungkin...," tanyaku dalam pikiranku. "Baik Pak Orion, saya sudah selesai mengambil data Anda di sini. Sekarang silahkan Anda pergi ke bagian CT Scan. Anda akan ditemani oleh suster," kata Dokter Bara. Kemudian Dokter Bara keluar sejenak untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian seorang suster paruh baya datang dan menghampiriku bersama dengan Dokter Bara. "Silahkan Pak, mari saya antar," kata suster itu tersenyum ramah. "Apakah saya boleh ikut, Dok?" tanya wanita yang sejak tadi selalu menemaniku. "Tidak perlu, Bu. Pemeriksaan tidak akan berlangsung lama. Jadi, sebaiknya Ibu di sini saja sekalian saya ingin menceritakan kondisi Pak Orion saat ini," jelas Dokter Bara kepadanya. Kemudian wanita itu kembali duduk sambil memerhatikanku yang pergi dibawa oleh suster dengan menggunakan kursi roda.

Ruang pemeriksaan CT Scan terletak agak jauh dari ruangan tempatku dirawat tadi. Kami harus melewati lorong yang cukup panjang dan turun satu lantai untuk mencapai tempat tersebut. Tempatnya agak gelap dan tertutup, mungkin karena takut terkena radiasi atau semacamnya. "Saya akan tunggu di luar. Di dalam sudah ada petugas dan operator yang akan melayani Anda," kata sang suster. Lalu, suster tersebut menekan bel yang terpasang di sebelah kanan atas pintu ruangan tersebut. Tak lama kemudian, ada seorang pria membukakan pintu. "Ya, ada perlu apa?" tanya pria tersebut. "Begini, ini Pak Orion, pasien Dokter Bara. Dokter Bara memerintahkan saya agar membawa Pak Orion untuk melakukan pemeriksaan di bagian kepalanya," Jelas suster tersebut. "Baiklah, silahkan masuk, Pak," kata si petugas pria.

Aku masuk ke ruangan tersebut. Semua serba terjaga dan rapi. Petugas pria tersebut memberikanku satu stel pakaian serba putih dan menyuruhku mengganti pakaianku. Aku turuti dan kulakukan permintaan petugas tersebut. Setelah berganti pakaian, aku masuk kebagian yang lebih dalam dari ruangan ini. Ada sebuah alat besar berwarna putih terletak tepat di bagian tengah ruangan. Mereka mengatakan alat itu adalah CT scan. Ada satu petugas di bagian dalam yang membantuku naik ke sesuatu yang mirip ranjang yang keluar dari CT scan, sedangkan petugas lainnya bersiap-siap di ruangan yang penuh dengan alat-alat dan komputer. Sehabis membantuku berbaring, petugas tersebut pergi dari ruangan, dan dimulailah pemeriksaanku.

Pemeriksaanku tidak berlangsung terlalu lama. Setelah selesai, aku langsung berganti pakaian dan diantar kembali ke ruangan tempat aku dirawat. Walau baru sekali melewati jalur ini, aku langsung hafal. Aku melalui beberapa suster, mantri dan Dokter di sepanjang perjalananku kembali ke ruang perawatan. Mereka tersenyum atau kadang mengangguk ketika bepapasan denganku. Aku menjawab dengan anggukan dan senyuman juga. "Sus, sepertinya mereka mengenalku? memangnya aku sering ke sini ya?" tanyaku pada suster. "Tentu saja, Pak. Anda sering kesini dan salah satu kepala tim penelitian di sini, yah... walaupun Anda bukan Dokter," kata si suster. Begitu rupanya, aku dan tempat ini ternyata memiliki cerita di dalamnya. Tak lama kemudian, aku sampai di ruang perawatan.

Aku masuk ke ruangan yang di dalamnya sudah terdapat wanita yang tadi selalu menemaniku, dan Dokter Bara. "Sudah selesai Pak Orion?" tanya Dokter Bara. Aku mengangguk. Suster mendorong kursi rodaku sampai ke hadapan Dokter Bara, tepat di sebelah si wanita cantik itu. "Saya tadi sudah menceritakan gambaran umum kondisi Anda kepada istri Anda," kata Dokter Bara sambil menujuk wanita yang duduk di sebelahku. "Istri? Begitu rupanya, jadi wanita cantik ini istriku," kataku dalam hati agak senang. "Tok... tok..," tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk. "Masuk!" jawab Dokter Bara. Kemudian sesosok pria muncul. "Permisi Dok, saya ingin menyerahkan hasil CT Scan tadi," kata si petugas pria. "Oh ok, terima kasih," balas Dokter Bara. Dokter Bara mengambil amplop coklat berisiberisiberisiberisiberisiberisiberisi gambar hasil scan dan memajangnya di papan yang bercahaya. Terlihat di papan, gambar-gambar tengkorak kepalaku. "Dari gambar ini dapat dilihat bahwa tidak ada benturan yang berarti di kepala Anda. Hanya saja, jika kita lihat dengan seksama, ada bagian-bagian di dalam kepala Anda yang terlihat bermasalah, terutama cairan di bagian otak Anda. Saya curiga ini terjadi akibat pendarahan yang Anda alami ketika kecelekaan satu tahun yang lalu," kata Dokter Bara menjelaskan kepada kami.

Aku berusaha mencerna seluruh perkataannya secara perlahan, kenyataannya aku tidak mengalami kesulitan untuk memahaminya. "Seperti yang sudah saya duga, mungkin ini yang menyebabkan Anda mengalami Amnesia Retrogade, yaitu hilang ingatan untuk kejadian lampau, terutama sebelum Anda sadar," kata Dokter Bara kembali menjelaskan. "Ah begitu rupanya, aku ternyata terkena amnesia," kataku. "Apakah itu permanen Dok?" tanya wanita yang merupakan istriku itu. "Entahlah, saya belum dapat menyimpulkan, tapi kemungkinan besar ini hanya sementara," jawab Dokter Bara. "Selain ini, seluruh kondisi fisik anda sudah kembali membaik, Anda hanya butuh sedikit terapi dan istirahat di sini kira-kira seminggu lagi. Setelah itu, Anda boleh pulang," kata sang Dokter. " Boleh saya tes sedikit?" Tanya sang Dokter. "Silahkan Dok," jawabku. "Berapa satu ditambah satu?" tanya sang Dokter. "Dua, Dok," Jawabku. "Sembilan dikali delapan?" Tanyanya kembali. "Tujuh puluh dua," jawabku. "Siapa nama istri Anda?" Tanyanya kembali. "Hmm... saya tidak ingat ,Dok," jawabku. "Ok, baiklah. Kecerdasan Anda tidak terganggu, hanya saja ingatan Anda tentang orang dan peristiwa sepetinya hilang," kata sang Dokter. Aku menengok ke arah wanita yang katanya merupakan istriku lalu kembali menatap Dokter Bara dengan tatapan bingung.

Setelah penjalasan yang cukup banyak telah disampaikan oleh Dokter Bara, dia undur diri dan pamit kepada kami. Dokter Bara menyuruhku beristirahat. Kini yang tinggal di ruangan luas ini hanya aku dan... istriku. Aku jadi merasa agak canggung setelah tahu siapa wanita ini. Kami terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya wanita, istriku, memulai berbicara padaku. "Rion, gimana kondisimu sekarang?" tanyanya dengan wajah khawatir. "Merasa jauh lebih baik daripada saat pertama kali sadar," jawabku. "Syukurlah...," responnya. Lalu, kami terdiam kembali. Tiba-tiba aku teringat bahwa aku sama sekali tidak mengingat namanya. "Maaf sebelumnya, karena kondisiku sekarang, maka bolehkah aku bertanya siapa namamu?" tanyaku padanya. "Alya, Alya Deneb. Kamu biasa memanggilku Alya," Jawabnya. "Baiklah jadi namamu adalah Alya dan namaku adalah Orion," kataku memperjelas pernyataanku. "Lebih panjangnya Orion Rachmadewanto siapa tahu kamu ingin tahu," kata Alya. Orion Rachmadewanto, namaku terdengar bagus. "Lebih baik kamu beristirahat. Kata Dokter kamu boleh pulang minggu depan, Aku akan kembali lagi minggu depan untuk menjemputmu sekaligus membawa pakaian ganti. Kurasa aku tidak akan kesini setiap hari supaya kamu bisa fokus melakukan perawatan dan terapi," katanya. Aku mengangguk. Aku kembali berbaring di ranjang. Alya membantu menyelimutiku, kemudian dia pamit untuk pulang. Badanku terasa lelah dan aku mulai mengantuk kembali. Tidak lama setelah Alya pergi, aku pun tertidur, lelap.

***

This is the end of the first chapter. I will post the other chapter next time ^^

Tags: my daily post, mystery, romance, short story, writing
  • Post a new comment

    Error

    Anonymous comments are disabled in this journal

    default userpic

    Your IP address will be recorded 

  • 0 comments